Motivasi Kepenulisan Itu Palsu

Motivasi Kepenulisan itu palsu
Foto: Freepik

Ketika saya menjadi pembicara di acara bertajuk “Motivasi Penulisan” yang diadakan oleh LPM sebuah universitas di Bandung, saya banyak membahas tentang bagaimana cerpen yang bagus, bagaimana cara menembus media, dan terutama bagaimana cara memotivasi diri untuk menulis. Saya tidak mengatakan bahwa semua yang saya katakan itu bohong, saya hanya ingin mengatakan bahwa semua yang saya katakan tentang motivasi tidak akan mengubah apa-apa tanpa usaha dari diri kita.

Sindrom yang sering dialami oleh para penulis pemula (atau mereka yang merasa pemula) adalah krisis kepercayaan diri sehingga mereka mencari kekuatan dari luar. Mengikuti seminar-seminar, menghadiri workshop-workshop penulisan, membaca berbagai modul dan buku how to, mencekoki benak sendiri dengan teori. Dengan harapan bahwa setelah keluar dari ruang seminar maka langsung bisa menulis dengan brilian.

Itu bagus, karena orang yang tidak berhenti belajar akan sukses. Tapi patut digarisbawahi bahwa terus-menerus mencari motivasi dari luar tidak akan membuat Anda seketika menjadi penulis. Karena seperti kata Kang Ahda Imran, menulis adalah pekerjaan dalam kesunyian. Yang akan kita dapatkan dari semua seminar dan para motivator hanyalah teknis atau semangat. Pada akhirnya, segala sesuatunya tergantung kita.

Maka berhentilah sejenak, rogoh ke dalam diri Anda. Apakah menulis adalah benar-benar sesuatu yang Anda inginkan? Sesuatu yang membangkitkan hasrat untuk terus menghasilkan karya? Jika tidak, maka seorang Mario Teguh pun tak akan membuat Anda termotivasi. Jadi lupakan seminar-seminar itu, lupakan workshop-workshop itu, buang buku-buku panduan Anda. Dan mulailah menulis!

Menulis bukan kerja teori, ini adalah kerja nyata. Ketika Anda mengatakan “Saya ingin menjadi penulis,” tapi Anda tidak melakukan apa pun, maka Anda tidak akan menjadi apa pun. Dorongan paling besar harus dimiliki dari dalam diri, bukan dari luar. Motivasi eksternal hanya dipergunakan ketika kita berada di zona anfal. Ibarat obat-obatan, Anda sedang menelan ekstasi ketika Anda mencari motivasi dari luar, padahal tubuh Anda bisa menghasilkan endorphin sendiri.

Kasus yang paling sering ditemukan adalah para penulis wanna be yang tidak tahu bagaimana cara untuk memulai sehingga melulu berkutat tentang ‘bagaimana’ dan ‘harus diapakan’. Cara paling mudah yang dilakukan adalah dengan membuat satu kata kemudian mengembangkannya menjadi kalimat, kemudian mengembangkan kalimat itu menjadi satu paragraf. Sulit? Do not make your life so complicated.

Tulis kata apa saja. Misal, kata “sekolah”.

Sekolah.

Tadi pagi saya pergi ke sekolah.

Saya pergi ke sekolah menggunakan bus kota. Di dalam bus kota saya bertemu dengan banyak orang, ada kondektur, sopir, dan penumpang lain. Jalanan lengang karena hari masih pagi, dan bla bla bla.

Itu hanya contoh sederhana. Anda bisa membuat yang lebih bagus dari itu. Nah, kembali kepada motivasi tadi. Seperti yang saya katakan di atas, motivasi eksternal tidak terlalu Anda butuhkan jika di dalam diri Anda sendiri sudah tertanam tekad yang bulat. Tell to yourself: I wanna be a writer, then I’ll be a writer.

Setelah ini barangkali Anda akan menemukan bahwa segala macam yang disebutkan oleh para motivator di dunia kepenulisan adalah repetisi dari motivasi-motivasi yang sudah Anda ketahui sendiri. Motivasi yang sudah Anda ciptakan sendiri.

Ingin jadi penulis? Maka mulailah menulis. Itu saja.

Langit Amaravati

Web developer, graphic designer, techno blogger.

Peminum kopi fundamentalis. Hobi membaca buku fiksi fantasi dan mendengarkan lagu campursari. Jika tidak sedang ngoding dan melayout buku, biasanya Langit melukis, menulis cerpen, belajar bahasa pemrograman baru, atau meracau di Twitter.